Senin, 03 November 2014

pendidikan karakter di kalangan remaja


MAKALAH
PENDIDIKAN KARAKTER DIKALANGAN REMAJA



NAMA :  NURUL ATIRA
NIM : 1414034

TAHUN AJARAN 2014/2015


KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun Tugas Bahasa Indonesia ini dengan baik dan tepat waktu.
Seperti  yang telah kita ketahui “Pendidikan Karakter” itu sangat penting bagi anak bangsa dari mulai dini. Semua akan dibahas pada makalah ini kenapa Pendidikan Karakter itu sangat dibutuhkan dan layak dijadikan sebagai materi pelajaran.
Tugas ini kami buat untuk memberikan  penjelasan tentang keberadaan Pendidikan Karakter bagi kemajuan bangsa. Semoga makalah yang kami buat ini dapat membantu menambah wawasan kita menjadi lebih luas lagi.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini. Oleh karena itu,  kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini.Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Pembina mata pelajaran Bahasa Indonesia , dan kepada pihak  yang telah membantu ikut serta dalam penyelesaian makalah ini.
Atas perhatian dan waktunya, kami sampaikan banyak terima kasih.





Bulukumba 29 oktober 2014


penulis




                                                                                                                  
                                                                  i.    


         
DAFTAR ISI


KATA PENGENTAR…………………………………………………………………..….i

DAFTAR ISI   ……………………………………………………………………………...ii

BAB I PENDAHULUAN
A.   Latar belakang……………………………………………………………………...1
B.   Rumusan Masalah ………………………………………………………………...2
C.     Tujuan penelitian…………………………………………………………………...2

BAB II PEMBAHASAN  
1.    Pengertian Pendidikan Karakter …………………………………………………3
2.    Cara membentuk karakter …………………......................................................4
3.      Pentingnya  Pendidikan karakter di kalangan remaja…………........................5
4.    Penyebab rusaknya karakter d kalangan remaja………………………………6
5.      Cara mengetasi permasalahan yang menyebebkan rusaknya karakter di kalangan remaja……………………………………………………………………7

BAB III PENUTUP  
1.    Kesimpulan  ………………………………………………………………………..8
2.    Saran  ……………………………………………………………………………....8

DAFTAR PUSTAKA






                                                                                                                                         
                                        ii.  




          
BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang.
Saat ini Negara Indonesia sedang menghadapi berbagai macam permasalahan penyimpangan perilaku, baik yang dilakukan oleh kalangan remaja maupun melibatkan para pemimpin bangsa, sebut saja tawuran antar pelajar. Kurangnya perhatian generasi muda terhadap lngkungan sekitar, anarkisme geng motor, atau yang lebih kompleks yaitu korupsi yang tumbuh subur. Sampai masalah kedisiplinan yang semakin lemah. Ini menjadi fakta yang tak terbantahkan lagi. Celakanya sebagian besar korupsi melibatkan politisi yang notabenenya merupakan orang terdidik.
Permasalah yang terjadi akhir akhir ini di Negara kita sebenarnya tidak terlepas  dari persoalan karakter. Pendidikan karakter yang seharusnya di  dapatkan  dari masa kanak kanak, malah membuat anak tersebut mmenyimpan dari apa yang di harapkan. Hal ini seiring dengan kecendrungan seorang remaja yang sedang mencari identitas diri dan selalu mencari hal hal yang baru. Di tambah lagi dengan kebudayaan asing yang sangat kuat mempengaruh generasi muda. Hal ini dapat membuat mereka lebih terjerumus ke dalam hal hal negative. Pada tahap ini, orang tua dan pendidik berperan penting dalam memberi  pendidikan dan pengawasan kepada anak tersebut. Sebagai seorang pengamat pendidikan, tentunya kami tidak akan berpangku tangan melihat kondisi generasi muda di Indonesia saat ini. Tindakan Pemerintah yang dianggap acuh tak acuh dengan kondisi generasi muda di Indonesia, sempat membuat masyarakat berang.
Realitas ini pada akhirnya menggugah kami melalui karya tulis ilmiah ini untuk kembali menghidupkan nilai-nilai pendidikan karakter yang dirasa saat ini mulai tergerus oleh laju arus globalisasi dan modernisasi yang tak terbendung lagi. Disebut-sebut dunia pendidikan adalah sebagai benteng terakhir yang mampu menahan derasnya terjangan dekadensi moral yang melanda bangsa ini. Tidak dapat dipungkiri lagi, dunia pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan anak. Adapun pembentukan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di dalam diri siswa semakin terpinggirkan.
Pendidikan karakter sesungguhnya memiliki intensitas yang sangat besar dalam membangun anak bangsa. Dan semestinya Pendidikan Karakter termasuk dalam materi yang harus dipelajari dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, dunia pendidikan dalam hal ini sangat diharapkan menjadi pengendali untuk mengedukasi bangsa kita sehingga manusia Indonesia lebih berkarakter dan bermartabat serta mulia.   

1.       


2. Rumusan Masalah.

A.   Apa makna dari Pendidikan Karakter ?
B.   Bagaimana cara membentuk karakter?
C.    Apa saja pentingnya  pendidikan karakter di kalangan remaja?
D.   Apa penyebab dari rusaknya  Karakter  di kalangan remaja?
E.   Bagaimana cara mengatasi berbagai permasalahan yang menyebabkan rusaknya karakter di kalangan remaja?

3. Tujuan Penelitian.
Penelitian ini bertujuan, untuk:
A.    Mengembangkan watak atau tabiatnya secara konsisten dalam mengambil keputusan budi  pekerti di tengah-tengah rumitnya kehidupan bermasyarakat ini.
B.    Mampu menggunakan pengalaman budi pekerti yang baik bagi pembentukan kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan bertanggung jawab atas tindakannya.


2.       


BAB II
PEMBAHASAN

1.    Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didiklah yang secara aktif mengembangkan potensi drinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian dri kecerdasan, kepribadan, sertaketerampilan yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Karakter Bisa disebut juga (Karakteristik). Untuk menunjukan ekstitensi dirinya manusia pasti mempunyai ciri khas karakter sendiri-sendiri.

Adapun Pendidikan Karakter menurut sumber referensi dan para ahli sebagai berikut:
a.    Pendidikan Karakter Menurut Lickona
Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwapengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
b.    Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.
c.    Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
d.    Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi
Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).


3.      

  
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan, Pendidikan Karakter adalah Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mengerti, menerapkan, dan mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki ciri khas yang dapat diterapkan dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun Negara.

2.  Cara Membentuk Karakter

Membentuk karakter, merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Seorang siswa tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula. Ada tiga pihak yang mempunyai peran penting, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam pembentukan karakter, ada tiga hal yang berlangsung secara terintegrasi. Pertama, seorang siswa mengerti baik dan buruk. Ia mengerti tindakan apa yang harus diambil serta mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Kedua, ia mempunyai kecintaan terhadap kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau semangat untuk berbuat kebajikan. Misalnya, seorang siswa tidak mau menyontek ketika ulangan tengah berlangsung. Karena menyontek adalah kebiasaan  buruk, ia tidak mau melakukannya. Ketiga, siswa di dalam lingkungannya mampu melakukan kebajikan dan terbiasa melakukannya.

Karakter-karakter yang baik harusnya dapat dipelihara. Hal pertama yang dapat dilakukan untuk membentuk karakter seorang siswa adalah dirumah. Ketika usia mereka di bawah tujuh tahun adalah masa terpenting dalam menanamkan karakter pada anak.  Dalam hal ini, orang tua (keluarga) perlu menanamkan karakter tersebut sehingga pembangunan watak, akhlak atau karakter bangsa (nation and character building,), mulai tumbuh dan dapat berkembang dalam kesehariannya.

Selanjutnya, dalam membangun karakter seorang siswa, pihak sekolah perlu memperhatikan aturan dan tata tertib yang berlaku disekolah. Di era globalisasi ini, banyak sekolah yang sudah jarang sekali menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila sehingga hubungan antara guru dan siswa tidak begitu akrab. Begitu juga dengan banyaknya siswa yang acuh tak acuh dengan keberadaan guru, tidak menghormati guru, dan lain-lain. Oleh karena itu, pihak sekolah perlu memperhatikan pembinaan sikap dan karakter masing-masing siswa dengan cara membina dan meningkatkan intelektualisme dan profesionalisme. Selain itu, pihak sekolah juga dapat menerapkan nilai-nilai karakter pada siswa dengan membuat aturan dan tata tertib yang dapat menumbuhkan karakter-karakter baik, misalnya dengan membuat kantin kejujuran. Dalam hal ini, sekolah dapat menumbuhkan karakter kejujuran pad setap siswa.


4.       


3. Pentingnya pendidikan karakter

Keinginan menjadi bangsa yang demokratis, bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), menghargai dan taat hukum adalah beberapa karakter bangsa yang diinginkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun, kenyataan yang ada justeru menunjukkan fenomena yang sebaliknya. Konflik horizontal dan vertikal yang ditandai dengan kekerasan dan kerusuhan muncul di mana-mana, diiringi mengentalnya semangat kedaerahan dan primordialisme yang bisa mengancam instegrasi bangsa; praktik korupsi, kolusi dan nepotisme tidak semakin surut malahan semakin berkembang; demokrasi penuh etika yang didambakan berubah menjadi demokrasi  yang kebablasan dan menjurus pada anarkisme; kesantuan sosial dan politik semakin memudar pada berbagai tataran kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; kecerdasan kehidupan bangsa yang dimanatkan para pendiri negara semain tidak tampak, semuanya itu menunjukkan lunturnya nilai-nilai luhur bangsa.
Di kalangan pelajar dan mahasiswa dekadensi moral ini tidak kalah memprihatinkan. Perilaku menabrak etika, moral dan hukum dari yang ringan sampai yang berat masih kerap diperlihatkan oleh pelajar dan mahasiswa. Kebiasaan mencontek pada saat ulangan atau ujian masih dilakukan. Keinginan lulus dengan cara mudah dan tanpa kerja keras pada saat ujian nasional menyebabkan mereka berusaha mencari jawaban dengan cara tidak beretika. Mereka mencari bocoran jawaban dari berbagai sumber yang tidak jelas. Apalagi jika keinginan lulus dengan mudah ini bersifat institusional karena direkayasa atau dikondisikan oleh pimpinan sekolah dan guru secara sistemik. Pada mereka yang tidak lulus, ada di antaranya yang melakukan tindakan nekat dengan menyakiti diri atau bahkan bunuh diri. Perilaku tidak beretika juga ditunjukkan oleh mahasiswa. Plagiarisme atau penjiplakan karya ilmiah di kalangan mahasiswa juga masih bersifat massif. Bahkan ada yang dilakukan oleh mahasiswa program doktor. Semuanya inI menunjukkan kerapuhan karakter di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Hal lain yang menggejala di kalangan pelajar dan mahasiswa berbentuk kenakalan. Beberapa di antaranya adalah tawuran antarpelajar dan antarmahasiswa. Di beberapa kota besar tawuran pelajar menjadi tradisi dan membentuk pola yang tetap, sehingga di antara mereka membentuk musuh bebuyutan. Tawuran juga kerap dilakukan oleh para mahasiswa seperti yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa pada perguruan tinggi tertentu di Makassar. Bentuk kenakalan lain yang dilakukan pelajar dan mahasiswa adalah meminum minuman keras, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan narkoba yang bisa mengakibatkan depresi bahkan terkena HIV/AIDS. Fenomena lain yang mencorong citra pelajar adalah dan lembaga pendidikan adalah maraknya gang pelajarâ dan gang motor Perilaku mereka bahkan seringkali menjurus pada tindak kekerasan (bullying) yang meresahkan masyarakat dan bahkan tindakan kriminal seperti pemalakan, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Semua perilaku negatif di kalangan pelajar dan mahasiswa tersebut atas, jelas menunjukkan kerapuhan karakter yang cukup parah yang salah satunya disebabkan oleh tidak optimalnya pengembangan karakter di lembaga pendidikan di samping karena kondisi lingkungan yang tidak mendukung.


5.     

  
Kondisi yang memprihatinkan itu tentu saja menggelisahkan semua komponen bangsa, termasuk presiden Republik Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memandang perlunya pembangunan karakter saat ini. Pada peringatan Dharma Shanti Hari Nyepi 2010, Presiden menyatakan, Pembangunan karakter (character building) amat penting. Kita ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan mulia. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good society). Dan, masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala manusia-manusia Indonesia merupakan manusia yang berakhlak baik, manusia yang bermoral, dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berperilaku baik pula.
Untuk itu perlu dicari jalan terbaik untuk membangun dan mengembangkan karkater manusia dan bangsa Indonesia agar memiliki karkater yang baik, unggul dan mulia. Upaya yang tepat untuk itu adalah melalui pendidikan, karena pendidikan memiliki peran penting dan sentral dalam pengembangan potensi manusia, termasuk potensi mental. Melalui pendidikan diharapkan terjadi transformasi yang dapat menumbuhkembangkan karakter positif, serta mengubah watak dari yang tidak baik menjadi baik. Ki Hajar Dewantara dengan tegas menyatakan bahwa “pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Jadi jelaslah, pendidikan merupakan wahana utama untuk menumbuhkembangkan karakter yang baik. Di sinilah pentingnya pendidikan karakter.

4. Penyebab Rusaknya Pendidikan Karakter
Rusaknya Pendidikan Karakter menjadi salah satu penyebab Negara Indonesia bisa dikatakan belum maju. Rusaknya Pendidikan Karakter disebabkan oleh berbagai macam hal-hal negatif.
Teknologi, mungkin adalah suatu contoh dari berbagai macam  hal yang merusak pendidikan karakter bangsa di Indonesia utamanya di kalangan remaja contohya saja banyak sekali remja yang meggunakan perlatan teknologi untuk hal – hal yang negatif misalnya yang lagi marak sekarang ini adalah trafficking melalui facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya.
Selain itu, ada 3 penyebab utama rusaknya karakter bangsa, yaitu:
a.    Pengaruh Budaya Luar
Hal ini memang tidak dapat dipungkiri akan akibatnya. Banyak sekali budaya luar yang sudah masuk ke Indonesia dan mungkin sudah menjadi budaya di kalangan remaja, akan tetapi hal tersebut belum tentu sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam.



6.    

   
b.    Minimnya Pengetahuan Agama
Nah, inilah yang paling penting yang harus kita tanamkan pada diri kita masing-masing. Karena apa, Agama merupakan tuntunan dasar supaya kita tidak salah dalam melakukan setiap tindakan. Jika agama sudah kuat, yakinlah kejahatan di Indonesia akan dapat diminimalisir. Contohnya saja, jika pejabat negeri ini memiliki agama yang baik, maka tidak mungkin mereka berani memakan uang rakyat (korupsi). Akan tetapi sebaliknya, jika agama sudah tidak diperdulikan, maka tunggulah kerusakan negara tersebut.
c.    Salahnya Sistem Pendidikan
Terjadinya kerusakan moral dikalangan pelajar dan generasi muda sebagaimana disebutkan diatas, karena tidak efektifnya keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pembinaan moral. Bahkan ketiga lembaga tersebut satu dan lainnya saling bertolak belakang, tidak seirama, dan tidak kondusif  bagi pembinaan moral.

5. Cara Mengatasi Kerusakan Karakter Pada Diri Remaja
Kerusakan karakter bangsa tentu tidak boleh kita biarkan terus berlangsung, harus ada upaya yang dilakukan untuk mengatasinya. Menurut Penulis ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut, di antaranya adalah:
1.   Memperkokoh keimanan atau akidah kepada Allah SWT dengan jalan memberikan pengetahuan  agama, baik yang dilakukan di rumah, kampus dan masyarakat, sehingga selalu terikat dan mau menyesuaikan diri dengan ketentuan Allah SWT.
2.   Menanamkan perasaan dekat kepada Allah SWT, sehingga di mana pun kita berada, ke manapun kita pergi dan bagaimanapun situasi dan kondisinya kita akan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Dengan hal demikian, maka akan membuat diri kita tidak berani menyimpang dari jalan-Nya.
3.   Mewujudkan lingkungan yang religius, baik melalui bahan bacaan, tontonan maupun lingkungan pergaulan, sehingga pengaruh dari lingkungan tersebut akan membuat manusia terbentuk menjadi orang yang memiliki kepribadian yang religius.
4.   Menumbuhkan tanggung jawab pengembangan amanah dakwah dengan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam bersikap dan berperilaku dalam berbagai sisi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa.
Dalam mengatasi kerusakan karakter pada diri manusia diperlukan perhatian yang sangat serius dari pendidik-pendidik di dalam keluarga, di sekolah, maupun di ruang lingkup masyarakat. Jika peran-peran berjalan dengan baik, maka akan terbentuk karakter-karakter yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila.


7.       


BAB III
PENUTUP
1.        Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang kami lakukan dapat ditarik kesimpulan :
Pendidikan Karakter di Indonesia belum berada pada tahap maju. Sehingga perlu diadakan perbaikan-perbaikan sistem pendidikan oleh pemerintah dalam memajukan Pendidikan Karakter anak bangsa di Indonesia. Keluarga, sekolah, dan masyarakat pun juga memiliki tanggung jawab dalam memajukan karakter anak bangsa. Dan juga, kurangnya rasa kepedulian warga  terhadap setiap pelanggaran yang dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat.
2.        Saran
Pendidikan Karakter bisa dimasukkan dalam kurikulum pendidikan agar siswa dapat memahami dan merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan Karakter tak hanya menjadi tugas guru pelajaran agama ataupun Pkn, tetapi juga seluruh guru. Bukan hanya di lingkup sekolah, pendidikan karakter harus dipikul pula oleh masyarakat secara luas. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat pun memanggul tugas memberikan pendidikan karakter terhadap anak pada fase paling awal.



8.       

 
DAFTAR PUSTAKA

ü  Noor, Rohinah M.2012. Mengembangkan Karakter Anak Secara Efektif. Yogyakarta: Pedagogja
ü  http://bau-rana.blogspot.com/2012/05/pentingnya-pendidikan-karakter.html



2 komentar: