MAKALAH
PENDIDIKAN
KARAKTER DIKALANGAN REMAJA

NAMA
: NURUL ATIRA
NIM :
1414034
TAHUN
AJARAN 2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyusun Tugas Bahasa Indonesia ini dengan baik dan tepat waktu.
Seperti yang telah kita ketahui
“Pendidikan Karakter” itu sangat penting bagi anak bangsa dari mulai dini.
Semua akan dibahas pada makalah ini kenapa Pendidikan Karakter itu sangat
dibutuhkan dan layak dijadikan sebagai materi pelajaran.
Tugas
ini kami buat untuk memberikan penjelasan tentang keberadaan
Pendidikan Karakter bagi kemajuan bangsa. Semoga makalah yang kami buat ini
dapat membantu menambah wawasan kita menjadi lebih luas lagi.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam
menyusun makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
sifatnya membangun sangat kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini.Kami
mengucapkan terima kasih kepada Bapak Pembina mata pelajaran Bahasa Indonesia , dan kepada pihak yang telah membantu ikut serta dalam
penyelesaian makalah ini.
Atas perhatian dan waktunya, kami sampaikan banyak
terima kasih.
Bulukumba 29 oktober 2014
penulis
i.
DAFTAR ISI
KATA
PENGENTAR…………………………………………………………………..….i
DAFTAR
ISI ……………………………………………………………………………...ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang……………………………………………………………………...1
B.
Rumusan
Masalah ………………………………………………………………...2
C.
Tujuan penelitian…………………………………………………………………...2
BAB
II PEMBAHASAN
1.
Pengertian Pendidikan
Karakter …………………………………………………3
2.
Cara
membentuk
karakter …………………......................................................4
3.
Pentingnya
Pendidikan karakter di
kalangan remaja…………........................5
4.
Penyebab
rusaknya karakter d kalangan remaja………………………………6
5.
Cara
mengetasi permasalahan yang menyebebkan rusaknya karakter di kalangan
remaja……………………………………………………………………7
BAB
III PENUTUP
1.
Kesimpulan ………………………………………………………………………..8
2.
Saran ……………………………………………………………………………....8
DAFTAR
PUSTAKA
ii.
BAB
I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang.
Saat ini
Negara Indonesia sedang menghadapi berbagai macam permasalahan penyimpangan
perilaku, baik yang dilakukan oleh kalangan remaja maupun melibatkan para
pemimpin bangsa, sebut saja tawuran antar pelajar. Kurangnya perhatian generasi
muda terhadap lngkungan sekitar, anarkisme geng motor, atau yang lebih kompleks
yaitu korupsi yang tumbuh subur. Sampai masalah kedisiplinan yang semakin
lemah. Ini menjadi fakta yang tak terbantahkan lagi. Celakanya sebagian besar
korupsi melibatkan politisi yang notabenenya merupakan orang terdidik.
Permasalah
yang terjadi akhir akhir ini di Negara kita sebenarnya tidak terlepas dari persoalan karakter. Pendidikan karakter
yang seharusnya di dapatkan dari masa kanak kanak, malah membuat anak
tersebut mmenyimpan dari apa yang di harapkan. Hal ini seiring dengan
kecendrungan seorang remaja yang sedang mencari identitas diri dan selalu
mencari hal hal yang baru. Di tambah lagi dengan kebudayaan asing yang sangat
kuat mempengaruh generasi muda. Hal ini dapat membuat mereka lebih terjerumus
ke dalam hal hal negative. Pada tahap ini, orang tua dan pendidik
berperan penting dalam memberi pendidikan dan pengawasan kepada anak
tersebut. Sebagai seorang pengamat pendidikan, tentunya kami tidak
akan berpangku tangan melihat kondisi generasi muda di Indonesia saat ini.
Tindakan Pemerintah yang dianggap acuh tak acuh dengan kondisi generasi muda di
Indonesia, sempat membuat masyarakat berang.
Realitas ini
pada akhirnya menggugah kami melalui karya tulis ilmiah ini untuk kembali menghidupkan
nilai-nilai pendidikan karakter yang dirasa saat ini mulai tergerus oleh laju
arus globalisasi dan modernisasi yang tak terbendung lagi. Disebut-sebut dunia
pendidikan adalah sebagai benteng terakhir yang mampu menahan derasnya
terjangan dekadensi moral yang melanda bangsa ini. Tidak dapat dipungkiri lagi,
dunia pendidikan saat ini hanya mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan
kecerdasan anak. Adapun pembentukan karakter dan nilai-nilai budaya bangsa di
dalam diri siswa semakin terpinggirkan.
Pendidikan
karakter sesungguhnya memiliki intensitas yang sangat besar dalam membangun
anak bangsa. Dan semestinya Pendidikan Karakter termasuk dalam materi yang
harus dipelajari dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, dunia pendidikan dalam hal ini sangat
diharapkan menjadi pengendali untuk mengedukasi bangsa kita sehingga manusia
Indonesia lebih berkarakter dan bermartabat serta mulia.
1.
2. Rumusan Masalah.
A.
Apa
makna dari Pendidikan Karakter ?
B.
Bagaimana
cara membentuk karakter?
C. Apa saja pentingnya pendidikan karakter di kalangan remaja?
D. Apa penyebab dari rusaknya
Karakter di kalangan remaja?
E.
Bagaimana cara mengatasi berbagai permasalahan
yang menyebabkan rusaknya karakter di kalangan remaja?
3. Tujuan Penelitian.
Penelitian ini bertujuan, untuk:
A. Mengembangkan watak atau tabiatnya
secara konsisten dalam mengambil keputusan budi pekerti di tengah-tengah
rumitnya kehidupan bermasyarakat ini.
B. Mampu menggunakan pengalaman budi
pekerti yang baik bagi pembentukan kesadaran dan pola perilaku yang berguna dan
bertanggung jawab atas tindakannya.
2.
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didiklah yang secara aktif mengembangkan potensi drinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian dri kecerdasan, kepribadan, sertaketerampilan
yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Karakter Bisa disebut juga
(Karakteristik). Untuk menunjukan ekstitensi dirinya manusia pasti
mempunyai ciri khas karakter sendiri-sendiri.
Adapun Pendidikan Karakter
menurut sumber referensi dan para ahli sebagai berikut:
a. Pendidikan Karakter Menurut Lickona
Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan
untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang
tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan
oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwapengertian pendidikan
karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang
sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang
inti.
b. Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir
dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja
sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara.
c. Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya
Karakter adalah ciri khas
yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli
dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan
“mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan
merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
d. Pendidikan Karakter Menurut Kamus
Psikologi
Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik
tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan
dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).
3.
Dari uraian diatas dapat
ditarik kesimpulan, Pendidikan Karakter adalah Usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik mengerti, menerapkan, dan mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
ciri khas yang dapat diterapkan dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa,
maupun Negara.
2. Cara Membentuk Karakter
Membentuk karakter,
merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Seorang siswa tumbuh menjadi
pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula.
Ada tiga pihak yang mempunyai peran penting, yaitu keluarga, sekolah, dan
masyarakat. Dalam pembentukan karakter, ada tiga hal yang berlangsung secara
terintegrasi. Pertama, seorang siswa mengerti baik dan buruk. Ia
mengerti tindakan apa yang harus diambil serta mampu memberikan prioritas
hal-hal yang baik. Kedua, ia mempunyai kecintaan terhadap
kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau
semangat untuk berbuat kebajikan. Misalnya, seorang siswa tidak mau menyontek
ketika ulangan tengah berlangsung. Karena menyontek adalah kebiasaan
buruk, ia tidak mau melakukannya. Ketiga, siswa di dalam
lingkungannya mampu melakukan kebajikan dan terbiasa melakukannya.
Karakter-karakter yang
baik harusnya dapat dipelihara. Hal pertama yang dapat dilakukan untuk
membentuk karakter seorang siswa adalah dirumah. Ketika usia mereka di bawah tujuh tahun adalah masa terpenting dalam menanamkan karakter
pada anak. Dalam
hal ini, orang tua (keluarga) perlu menanamkan karakter tersebut sehingga pembangunan watak, akhlak atau karakter
bangsa (nation and character building,), mulai tumbuh dan dapat
berkembang dalam kesehariannya.
Selanjutnya, dalam
membangun karakter seorang siswa, pihak sekolah perlu memperhatikan aturan dan tata tertib yang berlaku disekolah. Di era
globalisasi ini, banyak sekolah yang sudah jarang sekali menerapkan nilai-nilai
luhur Pancasila sehingga hubungan antara guru dan siswa tidak begitu akrab.
Begitu juga dengan banyaknya siswa yang acuh tak acuh dengan keberadaan guru,
tidak menghormati guru, dan lain-lain. Oleh karena itu, pihak sekolah perlu memperhatikan
pembinaan sikap dan karakter masing-masing siswa dengan cara membina dan
meningkatkan intelektualisme dan profesionalisme. Selain itu, pihak sekolah
juga dapat menerapkan nilai-nilai karakter pada siswa dengan membuat aturan dan
tata tertib yang dapat menumbuhkan karakter-karakter baik, misalnya dengan
membuat kantin kejujuran. Dalam hal ini, sekolah dapat menumbuhkan karakter
kejujuran pad setap siswa.
4.
3. Pentingnya pendidikan
karakter
Keinginan menjadi bangsa yang demokratis, bebas
dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), menghargai dan taat hukum adalah
beberapa karakter bangsa yang diinginkan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Namun, kenyataan yang ada justeru menunjukkan fenomena
yang sebaliknya. Konflik horizontal dan vertikal yang ditandai dengan kekerasan
dan kerusuhan muncul di mana-mana, diiringi mengentalnya semangat kedaerahan
dan primordialisme yang bisa mengancam instegrasi bangsa; praktik korupsi,
kolusi dan nepotisme tidak semakin surut malahan semakin berkembang; demokrasi
penuh etika yang didambakan berubah menjadi demokrasi yang kebablasan dan
menjurus pada anarkisme; kesantuan sosial dan politik semakin memudar pada
berbagai tataran kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; kecerdasan
kehidupan bangsa yang dimanatkan para pendiri negara semain tidak tampak,
semuanya itu menunjukkan lunturnya nilai-nilai luhur bangsa.
Di
kalangan pelajar dan mahasiswa dekadensi moral ini tidak kalah memprihatinkan.
Perilaku menabrak etika, moral dan hukum dari yang ringan sampai yang berat
masih kerap diperlihatkan oleh pelajar dan mahasiswa. Kebiasaan mencontek pada
saat ulangan atau ujian masih dilakukan. Keinginan lulus dengan cara mudah dan
tanpa kerja keras pada saat ujian nasional menyebabkan mereka berusaha mencari
jawaban dengan cara tidak beretika. Mereka mencari bocoran jawaban dari
berbagai sumber yang tidak jelas. Apalagi jika keinginan lulus dengan mudah ini
bersifat institusional karena direkayasa atau dikondisikan oleh pimpinan
sekolah dan guru secara sistemik. Pada mereka yang tidak lulus, ada di
antaranya yang melakukan tindakan nekat dengan menyakiti diri atau bahkan bunuh
diri. Perilaku tidak beretika juga ditunjukkan oleh mahasiswa. Plagiarisme atau
penjiplakan karya ilmiah di kalangan mahasiswa juga masih bersifat massif.
Bahkan ada yang dilakukan oleh mahasiswa program doktor. Semuanya inI
menunjukkan kerapuhan karakter di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Hal lain yang menggejala di kalangan pelajar dan
mahasiswa berbentuk kenakalan. Beberapa di antaranya adalah tawuran
antarpelajar dan antarmahasiswa. Di beberapa kota besar tawuran pelajar menjadi
tradisi dan membentuk pola yang tetap, sehingga di antara mereka membentuk
musuh bebuyutan. Tawuran juga kerap dilakukan oleh para mahasiswa seperti yang
dilakukan oleh sekelompok mahasiswa pada perguruan tinggi tertentu di Makassar.
Bentuk kenakalan lain yang dilakukan pelajar dan mahasiswa adalah meminum
minuman keras, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan narkoba yang bisa
mengakibatkan depresi bahkan terkena HIV/AIDS. Fenomena lain yang mencorong
citra pelajar adalah dan lembaga pendidikan adalah maraknya gang pelajarâ dan
gang motor Perilaku mereka bahkan seringkali menjurus pada tindak kekerasan
(bullying) yang meresahkan masyarakat dan bahkan tindakan kriminal seperti
pemalakan, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Semua perilaku negatif di kalangan
pelajar dan mahasiswa tersebut atas, jelas menunjukkan kerapuhan karakter yang
cukup parah yang salah satunya disebabkan oleh tidak optimalnya pengembangan
karakter di lembaga pendidikan di samping karena kondisi lingkungan yang tidak
mendukung.
5.
Kondisi yang memprihatinkan itu tentu saja
menggelisahkan semua komponen bangsa, termasuk presiden Republik Indonesia.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memandang perlunya pembangunan karakter saat
ini. Pada peringatan Dharma Shanti Hari Nyepi 2010, Presiden menyatakan,
Pembangunan karakter (character building) amat penting. Kita ingin membangun
manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan mulia. Bangsa kita ingin
pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita
capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good
society). Dan, masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala
manusia-manusia Indonesia merupakan manusia yang berakhlak baik, manusia yang
bermoral, dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berperilaku baik
pula.
Untuk itu perlu dicari jalan terbaik untuk
membangun dan mengembangkan karkater manusia dan bangsa Indonesia agar memiliki
karkater yang baik, unggul dan mulia. Upaya yang tepat untuk itu adalah melalui
pendidikan, karena pendidikan memiliki peran penting dan sentral dalam
pengembangan potensi manusia, termasuk potensi mental. Melalui pendidikan
diharapkan terjadi transformasi yang dapat menumbuhkembangkan
karakter positif, serta mengubah watak dari yang tidak baik menjadi baik. Ki
Hajar Dewantara dengan tegas menyatakan bahwa “pendidikan merupakan daya
upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter),
pikiran (intellect), dan tubuh anak. Jadi jelaslah, pendidikan merupakan wahana
utama untuk menumbuhkembangkan karakter yang baik. Di sinilah pentingnya
pendidikan karakter.
4. Penyebab Rusaknya Pendidikan Karakter
Rusaknya
Pendidikan Karakter menjadi salah satu penyebab Negara Indonesia bisa dikatakan
belum maju. Rusaknya Pendidikan Karakter disebabkan oleh berbagai macam hal-hal
negatif.
Teknologi,
mungkin adalah suatu contoh dari berbagai macam hal yang merusak
pendidikan karakter bangsa di Indonesia utamanya di kalangan remaja contohya
saja banyak sekali remja yang meggunakan perlatan teknologi untuk hal – hal
yang negatif misalnya yang lagi marak sekarang ini adalah trafficking melalui
facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya.
Selain itu,
ada 3 penyebab utama rusaknya karakter bangsa, yaitu:
a. Pengaruh Budaya Luar
Hal ini memang
tidak dapat dipungkiri akan akibatnya. Banyak sekali budaya luar yang sudah
masuk ke Indonesia dan mungkin sudah menjadi budaya di kalangan remaja, akan
tetapi hal tersebut belum tentu sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang
mayoritas masyarakatnya beragama Islam.
6.
b.
Minimnya
Pengetahuan Agama
Nah, inilah
yang paling penting yang harus kita tanamkan pada diri kita masing-masing.
Karena apa, Agama merupakan tuntunan dasar supaya kita tidak salah dalam
melakukan setiap tindakan. Jika agama sudah kuat, yakinlah kejahatan di
Indonesia akan dapat diminimalisir. Contohnya saja, jika pejabat negeri ini
memiliki agama yang baik, maka tidak mungkin mereka berani memakan uang rakyat
(korupsi). Akan tetapi sebaliknya, jika agama sudah tidak diperdulikan, maka
tunggulah kerusakan negara tersebut.
c. Salahnya Sistem Pendidikan
Terjadinya
kerusakan moral dikalangan pelajar dan generasi muda sebagaimana disebutkan
diatas, karena tidak efektifnya keluarga, sekolah dan masyarakat dalam
pembinaan moral. Bahkan ketiga lembaga tersebut satu dan lainnya saling
bertolak belakang, tidak seirama, dan tidak kondusif bagi pembinaan
moral.
5. Cara Mengatasi
Kerusakan Karakter Pada Diri Remaja
Kerusakan karakter bangsa tentu tidak boleh kita biarkan terus
berlangsung, harus ada upaya yang dilakukan untuk mengatasinya. Menurut Penulis
ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut, di
antaranya adalah:
1. Memperkokoh keimanan atau akidah kepada Allah SWT
dengan jalan memberikan pengetahuan agama, baik yang dilakukan di
rumah, kampus dan masyarakat, sehingga selalu terikat dan mau menyesuaikan diri
dengan ketentuan Allah SWT.
2. Menanamkan perasaan dekat kepada Allah SWT, sehingga
di mana pun kita berada, ke manapun kita pergi dan bagaimanapun situasi dan
kondisinya kita akan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Dengan hal demikian,
maka akan membuat diri kita tidak berani menyimpang dari jalan-Nya.
3. Mewujudkan lingkungan yang religius, baik melalui
bahan bacaan, tontonan maupun lingkungan pergaulan, sehingga pengaruh dari
lingkungan tersebut akan membuat manusia terbentuk menjadi orang yang memiliki
kepribadian yang religius.
4. Menumbuhkan tanggung jawab pengembangan amanah
dakwah dengan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam bersikap dan
berperilaku dalam berbagai sisi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan
berbangsa.
Dalam mengatasi kerusakan karakter pada diri manusia diperlukan perhatian
yang sangat serius dari pendidik-pendidik di dalam keluarga, di sekolah, maupun
di ruang lingkup masyarakat. Jika peran-peran berjalan dengan baik, maka akan
terbentuk karakter-karakter yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila.
7.
BAB
III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang kami lakukan dapat ditarik kesimpulan :
Pendidikan Karakter di
Indonesia belum berada pada tahap maju. Sehingga perlu diadakan
perbaikan-perbaikan sistem pendidikan oleh pemerintah dalam memajukan
Pendidikan Karakter anak bangsa di Indonesia. Keluarga, sekolah, dan masyarakat
pun juga memiliki tanggung jawab dalam memajukan karakter anak bangsa. Dan
juga, kurangnya rasa kepedulian warga terhadap setiap pelanggaran yang
dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat.
2. Saran
Pendidikan
Karakter bisa dimasukkan dalam kurikulum pendidikan agar siswa dapat memahami
dan merealisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan Karakter tak
hanya menjadi tugas guru pelajaran agama ataupun Pkn, tetapi juga seluruh guru.
Bukan hanya di lingkup sekolah, pendidikan karakter harus dipikul pula oleh
masyarakat secara luas. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat
pun memanggul tugas memberikan pendidikan karakter terhadap anak pada fase
paling awal.
8.
DAFTAR
PUSTAKA
ü
Noor, Rohinah
M.2012. Mengembangkan Karakter Anak Secara Efektif. Yogyakarta: Pedagogja
ü http://bau-rana.blogspot.com/2012/05/pentingnya-pendidikan-karakter.html
yuk kunjungi www.intanonline.com ==> bukunya lengkap. terima kasih
BalasHapusCara Hack Sakong
BalasHapusCara Hack Sakong Online
Trik Hack Sakong
Tips Hack Sakong
Cara Hack Samgong
Cara Menang BandarQ
Cara Curang BandarQ
Trik Menang BandarQ
Tips Menang BandarQ
Cara Hack BandarQ
Agen Sakong
Agen Domino99
Agen Remi9
Agen Poker
Agen AduQ
Agen Sakong
Agen Domino99
Agen Remi9
Agen Poker
Agen AduQ
Agen Samgong
Bandar Samgong
Judi Samgong
Agen Samgong Online
Judi Samgong Online